Aku, Adalah Seorang Melankolis

Sudah lama tidak menulis, membuatku berfikir untuk kembali melakukan hal yang sudah lama aku tinggalkan. Semenjak tiga tahun terakhir, aku cenderung melakukan banyak hal yang aku suka. Banyak mencoba segala hal baru, yang membuatku tidak sadar mulai meninggalkan beberapa hobi lamaku, salah satunya menulis. Terakhir kali aku menulis mungkin sekitar hampir tiga tahun. Bermula dari cerpen, wattpad, sampai tugas sekolah mengharuskanku membuat sebuah karya tulis bertemakan bebas di blog. 

Sebenarnya, ada banyak yang ingin aku ceritakan mengenai kegiatanku selama tiga tahun terakhir ini. Apalagi, kehidupan baru di SMA benar-benar mengesankan, dan terntunya banyak hal yang aku alami. Tapi kali ini, aku akan menceritakan tentang kepribadianku yang sebenarnya, jujur baru aku sadari beberapa waktu terakhir ini. 

Mungkin dari kalian, sedikit banyak sudah tahu mengenai kepribadian 'Melankolis'.

Peduli dengan kepribadian yang cenderung mengusikku beberapa waktu terakhir, aku baru menyadari bahwa sungguh, aku memiliki kepribadian melakonlis yang teramat besar. Mungkin, karena kini aku berusia tujuh belas tahun dimana ini adalah usia pencarian jati diri seseorang di usia remaja. 

Literaturku di usia ini sudah cukup banyak. Banyak hal yang mencerdaskanku dari waktu ke waktu. Menyadari aku berkembang, sungguh itu adalah berita baik. Salah satunya adalah kepribadianku yang semakin jelas terlihat setelah aku memasuki usia remaja ini. 

Melankolis sendiri adalah kepribadian yang serba perfeksionis. Ya, aku suka semua hal yang sempurna. Ralat, tidak semua tapi kebanyakan. Aku juga tipikal seorang pemikir berat. Cenderung lebih senang melakukan semuanya sendiri. Lambat membuat keputusan karena harus mempertimbangkan ini itu dengan hati-hati agar hasilnya sempurna. 

PERCINTAAN

Bisa dibilang, aku menyebut diriku sendiri aneh. Sampai saat ini sendiri, jujur tidak ada laki-laki yang benar-benar aku sukai setulus hati. Mengingat sifatku yang serba sempurna, aku menginginkan kisah cinta yang sempurna pula. Begitu juga dengan pasangannya. 

Sempurna disini tidak berarti pasanganku harus berwajah tampan dan tinggi seperti aktor. Jika ditanya, apa tipikal laki-laki kesukaanku, aku akan menjawab 'sempurna'. Karena, sempurna itu dapat diartikan banyak hal. Mulai dari kepribadiannya, hingga apapun hal yang dia lakukan.

Tak jarang, banyak orang yang awalnya nampak menarik dan kusukai. Namun setelah mengetahui ada hal yang membuatku risih, aku langsung berputar arah. Dan anehnya, hal yang membuatku risih itu adalah hal kecil. Hal yang mungkin orang lain mengatakan kalau aku lebay dan berlebihan. Tapi, itu sangat menggangguku.

Hal ini juga membosankan, menyukai hanya satu orang dan bertahan dengan satu orang. Aku tipikal orang yang mudah bosan. Ini membuatku takut di masa depan, apakah bisa aku bertahan dengan satu orang laki-laki saja? Sungguh, tidak bisa kubayangkan.

Jika bisa hidup tanpa lelaki, mungkin akan lebih baik. Begitu pikirku. Tujuh belas tahun aku hidup tanpa seseorang laki-laki seperti itu, aku bisa. Pahit manisnya hidup kulalui tanpa orang spesial dalam hidupku, dalam artian pacar atau apalah sejenisnya. Selama mempunyai teman, aku pikir aku akan baik-baik saja.

Jujur, terkadang aku ingin memiliki teman laki-laki yang benar-benar bisa dekat denganku seperti teman-temanku yang lainnya. Melihat di usia SMA ini banyak temanku yang sudah memiliki pacar. Tapi disisi lain, bisakah? Adakah? Aku sangat meragukan hal itu. Mengingat setiap ada teman laki-laki yang mungkin suka padaku, aku selalu menjauh.

Aku tipikal perempuan yang lebih memilih mencintai daripada dicintai. Karena, aku tidak mau mereka menjadi budak cintaku. Memikirkan hal itu saja sudah membuatku geli sampai bergidik. Aneh bukan? Banyak yang bertanya, lalu untuk apa kamu mencintai orang lain jika kamu tidak mau dicintai?

Aneh memang. Tapi, aku sebenarnya menginginkan laki-laki yang cuek, namun dia menyukaiku. Dalam artian ini, aku tidak menyukai pasangan yang terhitung lebay. Tidak menanyakan apa aku sudah makan, mandi, beribadah, atau apa yang sedang aku lakukan. Aku lebih senang mengobrolkan hal-hal kecil yang seru yang dapat menarik perhatianku.

Memang tidak banyak laki-laki seperti itu. Apalagi, yang betul-betul baik. Sepertinya, laki-laki karakter itu hanya ada di drama yang aku tonton saja. Lucu memang, tapi aku memang se-perfeksionis itu.

PERTEMANAN

Sering kali aku merasakan kesepian. Menginginkan sahabat yang sudah lama berteman denganku sehingga ada disaat situasi apapun yang aku alami, dan dapat kuhubungi dimanapun dan kapanpun. Namun nyatanya sedari aku kecil, aku tidak memiliki kisah pertemananan yang cukup lama dan awet. Selalu saja ganti-gantu teman dekat. Sperti biasa, aku lebih suka melakukan hal yang jangka pendek daripada jangka panjang. Ini menyalahi keinginanku yang menginginkan sahabat dekat.

Temanku banyak. Mereka seru dan pengertian. Ditengah aku mengingkan teman dekat, disisi lain aku menginginkan kesendirian. Aku lebih suka berkunjung ke rumah temanku dibandingkan mereka yang mengunjungi rumahku. Karena aku memang lebih suka menyendiri. Aku tidak suka dikunjungi. Aneh bukan? Padahal aku sangat ingin memiliki teman dekat.

Ada satu temanku yang peduli terhadapku. Aku sakit waktu itu. Dia ingin bertamu ke rumahku dan menjengukku tapi langsung kutolak. Aku menolaknya mengunjungiku. Padahal di rumah aku juga kesepian. Menurutku, akan aneh jika ia mengunjungiku. Aku tidak tahu apa yang harus aku lakukan saat dia mengunjungiku. Membuka obrolan yang bukan hobiku? Kita juga tidak terlalu dekat untuk itu. Sedangkan posisinya adalah aku sedang sakit saat itu.

Ini juga membuatku takut jika suatu saat nanti aku berkencan, maka otomatis dia akan sering mengunjungiku, atau apalah itu. Dan bahkan sama sekali aku tidak menyukai hal itu. Bagaimana bisa aku berkencan bila seperti itu? Kalau aku, rasa cinta saja sudah cukup menurutku. Tapi dia? Dia pasti juga ingin menghabiskan waktu denganku suatu saat nanti, layaknya psangan sungguhan. Aku sangat aneh. Ini yang membuatku takut untuk berkencan.

PEKERJAAN

Sendiri itu menyenangkan. Sedikit banyak pekerjaan yang aku lakukan, akan lebih baik jika kulakukan sendiri. Aku egois, tidak mudah percaya dengan orang lain sekalipun itu tugas kelompok. Tak jarang tugas kelompok hanya aku yang mengerjakan. Bukan karena apa-apa, tapi aku lebih nyaman jika aku yang mengerjakannya sendiri.

Aku ingin sesuatu yang kukerjakan membuahkan hasil yang sempurna. Maka dari itu, aku tidak ingin membiarkan orang lain bekerja denganku. Itu pikirku. Tak jarang, aku membenci sifatku yang satu ini.

Aku juga selalu menyelesaikan pekerjaanku dengan segera, bahkan terkadang terkesan terburu-buru, karena aku menginginkan suatu hal cepat selesai dan tentunya hasilnya baik. Dan aku percaya jika suatu hal aku lakukan sendiri, hasilnya akan baik. Bekerja sendiri juga lebih cepat dan efisien.

Walau begitu, aku titpikal seseorang yang sulit membuat keputusan dengan cepat. Aku selalu berpikir jangka panjang, apalagi jika dihadapkan dengan berbagai masalah. Contohnya masalah-masalah yang timbul pada organisasi.

Rasanya aku tidak bisa bergerak dengan cepat jika ada suatu masalah yang timbul. Maka dari itu untuk mengatasinya, aku lebih memilih suatu hal yang mencegah timbulnya masalah-masalah tersebut. Aku lebih menyelesaikan masalah diawal yang mungkin akan timbul dengan melakukan suatu hal sesuai dengan rencanaku.Sehingga, satu masalah bisa tertasi dengan baik. 

Tak jarang, aku pesimis denga suatu yang sudah aku kerjakan. Khawatir tidak melakukan hal yang sempurna, dan itu akan sangat mengganggu pikiranku sekalipun itu hanya hal kecil.

Aku juga suka membantu pekerjaan orang lain yang aku suka. Bahkan, mungkin aku terkadang terlihat seperti menggurui mereka. Sedikit banyak aku merasa tidak enak hati karena sering bersikap sok tahu dan membiarkan pekerjaan mereka kuselesaikan, tapi aku merasa dapat melakukan hal yang lebih baik dari mereka. Sangat egois. Maaf, teman-temanku.

Sebetulnya, banyak lagi yang mengusik pikiranku tentang sifat-sifatku yang sebenarnya terkadang tidak kusukai itu. Entah apa yang mendorongku ingin menulis hal ini dan mungkin akan dibaca oleh kalian yang menyadari kepribadian melankolisku ini. Tapi, aku hanya ingin kalian tahu saja.

Tulisanku mungkin tidak berarti bagi kalian para pembaca, namun ini sangat berarti untukku karena aku telah menemukan kepribadianku yang sebenarnya, dan dengan bangga bisa menceritakannya kepada kalian. Aku bangga dengan diriku sendiri, karena setiap kepribadian seseorang pasti memiliki sisi positif dan negatif. 

Sudahkah kalian mengetahui kepribadian kalian?

Salam hangat, Himma.



Komentar

  1. Just love yourself him,don't be scared with what people say. Just do what do you want because this is your life.
    Suka banget sama ceritanya,please bikin sering sering hehe :)

    BalasHapus

Posting Komentar

Postingan Populer